Penyair Masa Depan

Selamat Malam Sahabat Master , malam ini admin ada tugas nih . Admin mendapatkan perintah untuk share tentang tulisan salah satu penyair lama Opa Sugiono mengenai penyair masa depan.Yuk langsung check it out..


Judul di atas megacu pada dua pengertian, yakni penyair dan masa depan. Saya akan mengurai satu per satu. Penyair adalah orang yang profesinya menulis syair. Profesi di sini jangan diartikan sebagai pencarian nafkah, tapi lebih pada stigma kehadiran seseorang di dunia ini. Katakanlah eksistensi diri. Sebab, sejak dulu sampai kini, syair belum mampu menafkahi (lahir) penyair, namun nafkah batin, jiwa, sudah barang tentu: ya lah.
Lalu, apakah syair itu? Syair, yang pada era modern lebih dikenal sebagai puisi, adalah bentuk tulisan berseni (susastra), selain prosa (cerpen, novel, roman, naskah drama, dsb). Sesungguhnya puisi adalah inti susastra, sebab di dalam prosa pun ada unsur-unsur puitika. Disebut puisi karena ia murni puitika (keindahan) dalam menyajikan sikap hidup, pencerahan dan tuntunan hidup. Tentunya dengan susunan kata yang indah pula. Dalam perkembangannya, puisi membebaskan diri dari pranatan baku, namun bagaimanapun juga ia tetap harus puitik, harus indah.
Dan, apakah indah itu? Seuatu yang ritmis, kompositif, harmonis (berimbang) yang oleh penempatan unsur-unsurnya demikian tepat, pas, persisi. Tidak ada kaidah baku secara eksakta tentang presisi ini karena seni (estetika) bukanlah logika matematika. Ukurannya di citarasa. Apakah citarasa itu mewakili zamannya atau tidak. Citarasa itulah yang menandai peradaban umat manusia. Di sinilah kita bersambung dengan judul literasi ini: macam apakah citarasa masa depan itu?
Masa depan adalah esok. Bukan kemarin dan hari ini. Tapi yang lalu, kini, dan mendatang adalah kesinambungan waktu dalam ruang yang satu, yang utuh, yakni bumi, tatasurya, semesta, meski keadaannya mengalami perubahan oleh dinamika gerak unsur-unsurnya, termasuk ulah penghuninya, sebut saja: manusia. Citarasa manusia pun begerak, berkembang dan berubah, sesuai perjalanan peradaban: temuan-temuan baru, produk-produk baru, aplikasi-aplikasi baru (dalam perilaku kehidupan).
Juga citarasa perpusian akan mengalami pergeseran mengimbangi peradaban masa depan yang praktis, pragmatis, realistis, dalam menjawab persoalan hidup. Seperti kita ketahui era sekarang ini dirumuskan sebagai era hyper reality (melompati kenyataan adanya) sehingga sulit membedakan antara impian dan kenyataan. Contoh sederhana, realitas tulisan-tulisan puisi di media gawai sedemikian meluahnya, namun itu hanya realitas semu, karena senyatanya belum muncul nama-nama baru dalam kepenyairan gawai. “Yang beredar masih nama-nama mainstream,” penilaian sastrawan Soiawan Leak (baca status fb saya 25 Juli 2018: Percik Api Literasi Gawai).
Puisi masa depan adalah puisi yang mampu memberi jawaban terhadap persoalan hidup sesuai tantangan jamannya, dalam tata komunkasi yang ringkas, padat, cerdas, berwawasan, berisi tuntunan yang praktis, pragmatis, realistis, tanpa paksaan. Artinya, memiliki kemampuan mengetuk pintu hati yang membangkitkan citarasa pembaca untuk bergerak menyolusi kehidupan sehingga tercapai keseimbangan di tengah gelora perubahan yang bergerak supercepat tanpa menunggu kesiap-mampuan kita untuk mengkutinya. Puisi semacam itulah yang menjadi kebutuhan masa depan. Sungguh pun ringkas, padat, namun ia tetap sebagai puitika yang bermuatan estetika.
Nah, apakah para pemuisi gawai kita, yang berdasar catatan Kompasiana setiap hari beredar sekitar 5.000 karya (Isson Khairul pada Diskusi Sastra di Jakarta, 7 Juli 2018) sudah benar-benar siap menghadapi era yang demikian itu dan kini sejak dini sudah mulai bebenah menata diri sebagai ‘penyair masa depan’? Salam literasi.




EmoticonEmoticon