Salah Siapa

Salah Siapa

Oleh: Muhammad Rifki Alian

Disuatu pagi saat memasuki hari pertama ujian akhir semester, ada seorang mahasiswa bernama Rifki yang masih tertidur lelap dikamar. Saat itu kamarnya masih berantakan sekali seperti, bantal, selimut, guling, itu berserakan di mana-mana, bahkan laptop pun masih menyala dengan membuka software Ms. Word, yang di dalamnya terdapat tugas kuliahnya.

salah siapa

Seketika itu Rifki berbalik posisi tidur, mengusap wajahnya dengan tangan, posisi badannya terbaring lemas, dan kaki terbuka. Rifki pun bangun dari tidurnya dengan raut wajah yang masih mengantuk. Perlahan-lahan Rifki membuka matanya dan tak sengaja Dia melihat ke pintu lemarinya bertempelkan kertas dengan tulisan “Hari pertama UJIAN AKHIR SEMESTER!!! Cinema History jam 8 pagi!!! Tidak boleh telat!”, Dia membacanya dengan mata melotot dan langsung mengalihkan penglihatannya ke jam dinding, jam itu menunjukan pukul 07.45 pagi.

“Aaaaaaaaaaaaaaa!!” Dia berteriak seakan-akan kaget melihat waktu yang menunjukan bahwa 15 menit lagi ujian akhir akan dimulai. Rifki langsung bergegas dengan cepat meninggalkan tempat tidurnya, Dia langsung berlali menuju kamar mandi dengan membuka pintu secara keras. Dia membuka keran air dan menjulurkan kedua jari tangannya untuk bercuci muka, tapi hanya bagian mata saja yang Dia cuci, lalu Dia pun menggosok giginya tanpa alat penggosok gigi dan tanpa pasta gigi melainkan Dia hanya menggunakan kedua jarinya yaitu jari telunjuk dan jari tengah untuk melakukannya. “Haahh” Dia menghembuskan nafasnya ke telapak tangan kanan dan Dia pun merasa bau dengan mulutnya itu.

Rifki membuka pintu lemari untuk mengambil pakaian kuliahnya, Dia terburu-buru tanpa memilih-milih. Dia memakai baju kaos berwarna hitam dan jaket berwarna merah, memakai kaos kaki hitam dengan sepatu kets berwarna coklat. Tanpa sarapan Dia pun langsung bergegas mengambil tasnya dan berlari menuju pintu keluar.

Tapi tiba-tiba Dia merasakan sesuatu yang aneh, Dia pun melihat ke bawah, ternyata Dia belum menggunakan celana, Dia hanya menggunakan celana box pendek. Rifki menepuk jidat menggunakan tangannya lalu Dia langsung kembali ke rumahnya untuk memakai celana. Dia berlari menuju tempat kuliahnya dengan ekspresi wajah yang sangat yakin bahwa Dia bisa sampai di kampusnya tepat waktu.

Diselah perjalanan Rifki, ada seorang anak kecil menggunakan baju berwarna kuning, berwajah cina sedang memakan pisang dengan lahap. Saat Rifki sedang berlari anak kecil itu kaget dan langsung melemparkan cangkang pisang ke belakangnya. Anak kecil itu jongkok dan Rifki terus berlari dengan merasa yakin bahwa Dia bisa melompati anak kecil itu. Ketika Ia berhasil melompati anak itu, tak sengaja kaki kanannya menginjak cangkang pisang yang tadi dilemparkan oleh anak kecil berwajah cina itu.

“Aaaaaaaaaa, aw” Rifki terjatuh. Seketika Rifki bangun dari jatuhnya dan Dia pun mengusap wajahnya menggunakkan kedua tangannya, lalu si anak kecil tadi langsung kabur meninggalkan tempat itu.

Dia terus berlari menuju kampusnya dengan bercucuran keringat yang sangat banyak.

Sesampainya di kampus, ada seorang wanita berambut panjang hitam, berkulit putih, menggunakan baju berwarna biru, menjinjing tas coklat dan membawa buku kuliahnya. Rifki dengan keadaan masih berlari itu tak sengaja menoleh ke wanita cantik itu dan terus melihatnya, Rifki tersenyum dan si wanita cantik itu menjawab senyumannya. Tapi tiba-tiba Rifki menabrak tiang gedung dan si wanita itu pun menertawakannya.

Rifki berlari menuju lift, akan tetapi lift tersebut penuh dan Dia langsung mencari jalan lain supaya bisa sampai ke ruang ujiannya yaitu dengan menaiki tangga darurat. Dia menaiki tangga dengan cara berlari, ketika Dia sampai di lantai ke empat, Dia merasa kelelahan dengan raut wajah yang kusam, tapi Dia tidak menyerah, Dia tetap melanjutkan perjalanannya untuk menuju ruang ujiannya itu.

Sesampainya di lantai 6, Dia masih berlari di kodidor menuju ruang ujian, saat itu Dia mengeluarkan sebuah kartu dari saku kanannya dan Dia langsung menambah kecepatan larinya hingga sampai di pintu ruang kelas dengan menjulurkan kartu yang dipegangnya itu. Tapi ketika Dia sampai di sana yang terjadi adalah Dia telat masuk ruang ujian, Dia sampai di sana pukul 08.01. Dia duduk di depan ruang ujianya dengan merasa lelah dan sekaligus kecewa. “Tidaaaaaaaaaak!!” dia berteriak karena terlambat masuk.

Disebuah taman depan gedung kampusnya, Dia duduk dan menghembuskan nafas kencang menandakan Dia merasa kesal dan menyesal pada hari itu.

Dari belakangnya datang seorang laki-laki berpakaian hitam putih dan berkata, “Kenapa?” Rifki pun menoleh sambil menjawab, “Telat ikut ujian” laki-laki itu menanyakan kembali, “Kok bisa?” Rifki mengalihkan pandanganya kedepan sambil berkata “Huhh, itu gara-gara tadi!” “Gara-gara apa?”, tanya laki- laki itu. “Gara-gara tadi tuh pisang, itu cewek sama tadi tuh liftnya”

Tak lama kemudian laki-laki itu pun langsung mendekatinya sambil berkata, “Yakin? Bukan karena apa yang kamu lakukan semalem?”. Rifki pun menunduk sambil memikirkan apa yang Dia lakukan waktu malam, “Semalem sih gue..... BBM an, maen sosmed, terus maen game, dan browsing. Nah trus gue juga ngerjain tugas tuh sampe jadi”, “Hhh.. tapi sampe jam berapa?” kata si laki-laki tak dikenal itu. Rifki menjawab sambil memikirkanya, “Sampai......... subuh sih” Rifki langsung melihat ke bawah.

Laki-laki itu membuat Rifki sadar akan kesalahannya. Rifki berkata sambil menoleh ke tempat laki-laki tadi diam, “Iya juga ya, harusnya gue....” tapi tiba-tiba si laki-laki itu hilang meninggalkan Rifki.

Akhirnya Rifki sadar akan kesalahannya, Dia tahu bahwa apa yang Dia lakukan semalam itu salah, dan Dia juga tahu harusnya kejadian sekarang itu bukan disesali tapi dijadikan pelajaran untuk besok. “Semoga besok lebih baik dari pada hari ini”, kata Rifki sambil bergegas pulang.

Rifki pulang ke rumahnya, lalu membuka pintu rumah dengan perlahan dan meletakan tasnya digantungan dekat pintu. Dan Dia melakukan aktivitasnya seperti biasa.

Dia menuliskan kata-kata disebuah kertas hvs berwarna putih dengan tulisan, “Sesuatu kesalahan jangan dijadikan penyesalan, tapi dijadikan pelajaran buat besok.”

Keesokan harinya Dia masuk kuliah tepat waktu dan melaksanakan ujian akhir semesternya dengan lancar.


EmoticonEmoticon